Kelas Menengah: Analisa Lebih Tajam
10 lesson + Final Challenge — konsep, visual, contoh angka, latihan, quiz, case study.
Valuasi Lebih Dalam: Dari Multiple sampai DCF
Forward PER, PEG, EV/EBITDA, perbandingan historis & pesaing, dan konsep discounted cash flow.
0 dari 10 lesson di level ini sudah Anda selesaikan
🎯 Yang akan Anda kuasai — setelah lesson ini, Anda bisa:
- Membedakan trailing PER dan forward PER.
- Menghitung PEG dan EV/EBITDA lalu menafsirkannya.
- Memahami logika DCF dan sensitivitas asumsinya.
- Menggabungkan beberapa metode menjadi rentang harga wajar.
Konsep Utama
Trailing vs forward PER
Trailing memakai laba 12 bulan terakhir. Forward memakai perkiraan laba tahun depan. Forward lebih relevan bila laba berubah cepat, tetapi bergantung pada perkiraan yang bisa meleset.
PEG
PER ÷ pertumbuhan laba tahunan (%). PEG ±1 = PER sebanding dengan pertumbuhannya. Hanya bermakna untuk pertumbuhan yang stabil dan masuk akal.
EV/EBITDA
Menilai seluruh bisnis termasuk utang. Cocok untuk perusahaan padat modal atau dengan struktur utang berbeda. Tidak cocok untuk bank.
Multiple historis & pesaing
Hitung rata-rata dan rentang (±1 standar deviasi) PER/PBV 5 tahun. Bandingkan dengan pesaing sebanding sambil menyesuaikan perbedaan kualitas (ROE, growth).
DCF (Discounted Cash Flow)
Nilai perusahaan = nilai sekarang dari semua kas bebas masa depan. Uang di masa depan "didiskon" dengan tingkat imbal hasil yang diminta (discount rate).
Sensitivitas & rentang
Hasil DCF sangat peka terhadap discount rate dan pertumbuhan jangka panjang. Karena itu valuasi sebaiknya berupa rentang dari beberapa metode, bukan satu angka.
Analoginya
Membeli kebun mangga: berapa harga yang pantas? Hitung panen per tahun (kas), berapa lama pohon berbuah (horizon), dan berapa imbal hasil yang Anda minta dibanding menaruh uang di deposito (discount rate). Kalau panen diperkirakan naik, kebun lebih berharga. Kalau Anda meminta imbal hasil lebih tinggi karena risikonya besar, harga yang pantas turun. Itulah DCF.Visual
Ilustrasi — bukan data harga riil
Sensitivitas: nilai perusahaan pada berbagai discount rate (g = 5%)
Menggabungkan metode menjadi rentang
| Metode | Asumsi | Harga wajar/saham |
|---|---|---|
| PER historis | EPS forward 250 × PER rata-rata 14× | Rp3.500 |
| PER pesaing | 250 × 12× (setelah penyesuaian) | Rp3.000 |
| EV/EBITDA | EBITDA × 8×, dikurangi utang bersih | Rp3.200 |
| DCF | r 12%, g 5% | Rp3.400 |
| Rentang | Rp3.000–3.500 |
Contoh Angka
Forward PER dan PEG
- 1Harga Rp3.000; EPS 12 bulan terakhir Rp200 → trailing PER = 15×
- 2Perkiraan EPS tahun depan Rp240 (+20%) → forward PER = 3.000 ÷ 240 = 12,5×
- 3PEG = 15 ÷ 20 = 0,75
- 4Jika pertumbuhan ternyata hanya 8%: PEG = 15 ÷ 8 = 1,9
Contoh saham · Bank besar vs bank kecil
Di sektor perbankan, pasar cenderung memberi PBV lebih tinggi pada bank dengan ROE tinggi dan stabil (misalnya bank besar dengan dana murah), dan PBV rendah pada bank ber-ROE rendah. Membandingkan PBV antar bank tanpa melihat ROE-nya akan menyesatkan: bank ber-PBV 0,8 bisa saja lebih "mahal" dibanding kualitasnya daripada bank ber-PBV 4.Angka bersifat ilustrasi/dibulatkan untuk belajar — cek data terbaru di menu Analisa Saham.
Cara Membaca — Checklist Praktis
- Gunakan trailing dan forward PER; pahami asumsi laba di balik forward.
- Hitung PEG hanya jika pertumbuhan stabil dan realistis.
- Pakai EV/EBITDA untuk bisnis padat modal; PBV + ROE untuk bank.
- Buat DCF sederhana dan uji sensitivitas discount rate ±1–2%.
- Gabungkan metode menjadi rentang, lalu tentukan margin aman.
Kesalahan Umum
Memercayai satu angka DCF
Perubahan discount rate 1% bisa menggeser nilai 15–20%.
Asumsi pertumbuhan jangka panjang terlalu tinggi
g di DCF tidak boleh melebihi pertumbuhan ekonomi jangka panjang secara wajar.
Memakai PEG untuk laba yang naik-turun
PEG tidak bermakna untuk saham siklikal atau laba yang tidak stabil.
⚠️ Reality Check
Yang tidak boleh Anda simpulkan dari materi ini:
- ⚠Harga wajar adalah perkiraan dengan ketidakpastian besar, bukan target harga pasti.
- ⚠Saham bisa diperdagangkan jauh dari nilai wajarnya dalam waktu lama.
- ⚠Forward PER bergantung pada perkiraan laba yang sering direvisi.
Latihan
Kerjakan, jangan cuma dibaca — centang yang sudah selesai
Quiz
4 soal — klik jawaban untuk melihat pembahasan
1. Harga Rp2.400, EPS forward Rp200. Forward PER?
2. PER 18×, pertumbuhan laba 12%/tahun. PEG?
3. FCF tahun depan 50, r = 10%, g = 4%. Nilai menurut DCF sederhana?
4. Kenapa hasil DCF sebaiknya disajikan sebagai rentang?
Case Study
Menilai PT Kopi Nusantara
PT Kopi Nusantara (fiktif): harga Rp1.800, EPS trailing Rp120, perkiraan pertumbuhan laba 15%/tahun, PER rata-rata 5 tahun 17×, PER pesaing sebanding 14×. FCF per saham tahun depan diperkirakan Rp100.
Pertanyaan untuk Anda analisis
- Hitung trailing PER, forward PER, dan PEG.
- Hitung harga wajar dengan PER historis dan PER pesaing (pakai EPS forward).
- Hitung DCF sederhana per saham dengan r = 12% dan g = 6%. Tentukan rentang harga wajar dan beri kesimpulan.
Lihat pembahasan (coba jawab dulu sendiri)
Trailing PER = 1.800 ÷ 120 = 15×. EPS forward = 138 → forward PER ≈ 13×. PEG = 15 ÷ 15 = 1,0.
PER historis: 138 × 17 = Rp2.346. PER pesaing: 138 × 14 = Rp1.932.
DCF: 100 ÷ (0,12 − 0,06) = Rp1.667. Rentang kasar Rp1.700–2.300; harga Rp1.800 berada di batas bawah rentang. Menarik jika pertumbuhan 15% kredibel — margin amannya tipis bila pertumbuhan meleset. Langkah berikutnya: menguji kredibilitas pertumbuhan (moat, Lesson 5).
Takeaway
- ★Forward PER dan PEG bergantung pada kualitas perkiraan pertumbuhan.
- ★Pilih metode sesuai bisnis; gabungkan beberapa metode.
- ★DCF mengajarkan cara berpikir: nilai = kas masa depan yang didiskon.
- ★Sajikan valuasi sebagai rentang dengan margin aman.
Yang sekarang sudah bisa Anda lakukan
- Menghitung forward PER, PEG, EV/EBITDA, dan DCF sederhana.
- Menguji sensitivitas asumsi.
- Menyusun rentang harga wajar dari beberapa metode.
Berikutnya
Valuasi bergantung pada keyakinan bahwa laba bisa bertahan dan tumbuh. Apa yang melindungi laba dari pesaing? Itulah competitive advantage atau moat.